Cara menentukan tarif freelance
Banyak freelancer menentukan harga dengan menebak atau meniru orang lain. Cara yang lebih aman adalah mulai dari penghasilan yang kamu butuhkan, lalu menghitung mundur sampai tarif per jam dan per proyek.
Mulai dari kebutuhan
Tentukan tiga angka per bulan:
- Target penghasilan bersih yang kamu bawa pulang.
- Biaya kerja: internet, software, transport, alat, perawatan.
- Cadangan dalam persen: untuk bulan sepi, alat baru, dan kebutuhan tak terduga.
Jam kerja dan jam yang bisa ditagih
Tidak semua jam kerja bisa ditagih. Sebagian habis untuk mencari klien, membalas pesan, administrasi, dan revisi yang tidak dibayar. Banyak freelancer hanya bisa menagih sekitar separuh sampai dua pertiga jam kerjanya.
Contoh: 20 hari kerja × 8 jam = 160 jam. Bila 60% bisa ditagih, jam tertagih adalah 96 jam per bulan.
Rumus tarif per jam
Tarif per jam = (target + biaya) ÷ (1 − cadangan) ÷ jam tertagih
Contoh dengan target Rp 8.000.000, biaya Rp 1.500.000, cadangan 15%, dan 96 jam tertagih:
- (8.000.000 + 1.500.000) ÷ 0,85 = Rp 11.176.471 omzet yang dibutuhkan per bulan.
- 11.176.471 ÷ 96 = Rp 116.421 per jam.
- Dibulatkan ke atas: Rp 120.000 per jam, atau Rp 960.000 per hari kerja 8 jam.
Ini tarif minimal agar target tercapai. Harga pasar untuk keahlianmu bisa lebih tinggi.
Dari tarif per jam ke harga proyek
Klien biasanya lebih suka harga per proyek. Perkirakan jam pengerjaan, termasuk persiapan, komunikasi, dan revisi, lalu kalikan dengan tarif per jam. Proyek 12 jam dengan tarif Rp 120.000 berarti Rp 1.440.000.
Tulis batasan yang termasuk dalam harga, misalnya jumlah revisi, di surat penawaran.
Catatan
- Tinjau tarif secara berkala, misalnya setiap enam bulan atau saat biaya berubah.
- Perhitungan ini tidak memasukkan pajak. Untuk kewajiban pajak, konsultasikan dengan konsultan pajak.